Alkes Rusak Tak Bisa Menunggu, Gakeslab Kaltim Dorong Rumah Sakit Gandeng Penyedia Lokal

Ketua Gakeslab Indonesia Provinsi Kaltim, Lukman Hakim. (Foto: mell/KALTIMLINE.ID)

KALTIMLINE.ID, SAMARINDA – Kerusakan alat kesehatan (alkes) di rumah sakit tidak hanya menyangkut persoalan teknis, tetapi juga dapat berimbas pada kelancaran pelayanan medis.

Karena itu, Gabungan Perusahaan Alat-alat Kesehatan dan Laboratorium (Gakeslab) Indonesia Provinsi Kalimantan Timur mendorong rumah sakit lebih mempertimbangkan penyedia alat kesehatan yang memiliki dukungan teknisi di daerah.

Ketua Gakeslab Indonesia Provinsi Kaltim, Lukman Hakim, mengatakan keberadaan teknisi lokal menjadi salah satu keuntungan yang dapat mempercepat penanganan ketika terjadi gangguan pada peralatan medis. Rumah sakit tidak perlu menunggu teknisi dari luar daerah untuk datang dan melakukan perbaikan.

“Kalau teknisinya di luar Kalimantan, mereka pasti akan terbang dan itu butuh waktu. Alat itu kan tidak bisa digunakan lagi kalau terjadi suatu trouble,” ujar Lukman kepada KALTIMLINE.ID belum lama ini.

Menurutnya, kondisi tersebut perlu menjadi pertimbangan dalam memilih mitra penyedia alkes. Sebab, ketika alat mengalami kerusakan, kecepatan penanganan menjadi penting agar pelayanan di rumah sakit tidak ikut terganggu.

Lukman menilai perusahaan alkes lokal Kaltim sebenarnya memiliki kemampuan untuk bersaing dengan perusahaan dari luar daerah. Terlebih, perusahaan yang bergerak di bidang tersebut tetap harus memenuhi ketentuan perizinan dan standar distribusi alkes yang ditetapkan Kementerian Kesehatan (Kemenkes).

Ia menjelaskan, perusahaan alkes yang beroperasi di Kaltim diwajibkan memenuhi perizinan serta standar Cara Distribusi Alat Kesehatan yang Baik (CDAKB). Standar tersebut mengatur agar proses distribusi alkes, termasuk ketika mendatangkan peralatan dari luar Kalimantan, dilakukan sesuai prosedur.

“Perusahaan-perusahaan alkes yang ada di Kaltim itu wajib punya izin, punya CDAKB atau cara distribusi alat kesehatan yang baik dan benar,” jelasnya.

Dengan standar tersebut, Lukman menilai tidak semestinya perusahaan lokal dipandang sebelah mata dibandingkan penyedia dari luar daerah. Menurutnya, kualitas perusahaan lokal pada dasarnya dapat bersaing, sementara keunggulan utama berada pada dukungan layanan teknis yang tersedia di daerah.

Karena itu, ia berharap rumah sakit maupun pemangku kebijakan dapat membuka kesempatan lebih besar bagi perusahaan lokal untuk menjadi mitra penyedia alat kesehatan.

“Dengan kita karyakan pemain-pemain lokal, satu, kita bisa menciptakan lapangan pekerjaan,” katanya.

Dorongan tersebut juga berkaitan dengan manfaat ekonomi yang diharapkan tetap berputar di Kalimantan Timur. Lukman berharap semakin banyak pelaku usaha kesehatan lokal yang dilibatkan, semakin besar pula potensi pendapatan asli daerah (PAD) dan kesempatan kerja yang tercipta bagi masyarakat Kaltim.

Bagi Lukman, keberpihakan terhadap perusahaan lokal bukan berarti mengesampingkan perusahaan dari luar daerah. Ia menilai kesempatan tetap harus terbuka, tetapi perusahaan lokal yang telah memenuhi standar semestinya mendapat ruang untuk ikut bersaing dalam penyediaan kebutuhan kesehatan.

“Karena saya sebagai ketua asosiasi gabungan alat kesehatan dan laboratorium di Kalimantan Timur, saya berharap pemain-pemain lokal lebih diutamakan,” tegasnya.

Ia pun berharap dukungan berbagai pihak, termasuk media, dapat ikut membuka ruang bagi perusahaan lokal agar semakin dikenal dan diberi kesempatan untuk berkembang di daerah sendiri.

“Sebenarnya pemain lokal itu bisa. Sama pemain-pemain yang di luar Kalimantan, itu sama aja. Kualitasnya sama. Ya mungkin dukungan dari pihak media lah untuk bisa mengkaryakan putra daerah,” harapnya. (mell)

[post-views]

Share:

Facebook
Telegram
WhatsApp
X

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *