KALTIMLINE.ID, SAMARINDA — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Samarinda memasuki penanganan lanjutan setelah Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyiapkan operasi pemadaman dari udara.
Langkah ini diambil setelah Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memastikan belum terdapat potensi awan yang cukup untuk mendukung operasi modifikasi cuaca (OMC).
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Samarinda, Suwarso mengatakan, helikopter bantuan BNPB telah tiba di Bandara APT Pranoto Samarinda. Persiapan teknis penanganan akan dibahas dalam rapat bersama BNPB pada Rabu (9/9/2026).
“Saya tadi sekitar jam 12 dihubungi dari BNPB langsung. Bahwa saat ini helikopter sudah sampai di APT Pranoto. Besok jam 10 saya ikut rapat untuk persiapan teknis penanganan,” kata Suwarso, Senin (7/9/2026).
Suwarso menyebut waterbombing menjadi pilihan awal karena kondisi atmosfer belum memungkinkan dilakukannya OMC.
Berdasarkan informasi dari BNPB, hasil analisis BMKG Pusat menunjukkan belum terdapat pembentukan awan yang berpotensi menghasilkan hujan.
“Hasil dari BMKG Pusat belum ada potensi awan, pembentukan awan yang berpotensi menjadi hujan. Jadi belum ada awan yang potensi besar untuk disemai menjadi hujan,” ujarnya.
Karena itu, penanganan diarahkan lebih dulu melalui pemadaman dari udara menggunakan helikopter. Eksekusi waterbombing masih menunggu rapat teknis, namun jika seluruh persiapan memungkinkan, operasi tersebut diharapkan dapat dimulai dalam waktu dekat.
“Tapi setidaknya hari Rabu sudah bisa dimulai,” katanya.
Saat ini, satu unit helikopter terpantau telah berada di Bandara APT Pranoto. BPBD masih menunggu hasil rapat untuk memastikan teknis penggunaan helikopter, termasuk titik sasaran pemadaman.
Suwarso juga berharap operasi waterbombing tidak hanya difokuskan pada titik karhutla, tetapi dapat membantu pemulihan lahan pertanian yang terdampak.
Jika memungkinkan, penyiraman dari udara di area pertanian dinilai dapat mempercepat pemulihan kondisi tanah dan mengembalikan fungsi lahan.
“Jika memungkinkan lahan pertanian bisa ikut dilakukan waterbombing, itu juga akan mempercepat proses pengembalian fungsi sawah, bisa hidup tanah-tanah kembali,” tuturnya.
Kebutuhan penanganan dari udara ini tidak terlepas dari tingginya kejadian karhutla di Samarinda. Berdasarkan data terakhir BPBD, tercatat sekitar 176 kejadian kebakaran lahan, dengan karhutla Betapus di Samarinda Utara menjadi yang terbesar karena mencapai sekitar 20,5 hektare.
Sebelum Betapus, kebakaran lahan terbesar tercatat berada di Bantuas dengan luasan sekitar 10 hektare. Kondisi tersebut membuat penanganan karhutla kini tidak hanya mengandalkan pemadaman di darat, tetapi juga mulai diperkuat dengan dukungan pemerintah pusat.
“Sekitar 176, data terakhir itu. 176 kejadian dan yang terbesar yang di Betapus. Dulu sempat terbesar itu di daerah Bantuas, kurang lebih 10 hektare. Tapi ini ternyata di sini ada 20,5 hektare,” pungkas Suwarso. (mell)