KALTIMLINE.ID, SAMARINDA – Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai dirasakan masyarakat di Kecamatan Sambutan, Samarinda.
Kondisi ini menjadi perhatian karena Sambutan tercatat sebagai wilayah dengan kejadian karhutla tertinggi kedua di Kota Samarinda.
Merespons kondisi tersebut, Palang Merah Indonesia (PMI) Kecamatan Sambutan bersama PMI Kota Samarinda membagikan 1.000 masker kepada masyarakat.
Seluruh masker bahkan habis dalam waktu sekitar 20 menit, menunjukkan tingginya kebutuhan warga terhadap perlindungan dari paparan asap.
Ketua PMI Kecamatan Sambutan, Las Sugiarto, mengatakan pembagian masker dilakukan sebagai langkah antisipasi agar dampak kabut asap tidak berkembang menjadi persoalan yang lebih serius.
“Kita sebelum terjadi hal yang terburuk, sudah antisipasi pembagian masker,” ujarnya, Jumat (4/9/2026).
Masker tersebut diharapkan tidak hanya digunakan ketika asap semakin pekat, tetapi juga menjadi pengingat bagi masyarakat untuk lebih memperhatikan kesehatan selama beraktivitas di luar rumah.
Sugiarto turut mengingatkan kelompok rentan, seperti ibu hamil dan bayi, agar mendapat perhatian lebih di tengah kondisi udara yang terdampak asap.
Masyarakat juga diminta mengurangi aktivitas di luar rumah apabila tidak ada keperluan mendesak, terutama di sekitar lokasi yang menjadi sentra kebakaran.
“Kalau tidak ada keadaan yang terlalu penting, mohon dihindari dulu, terutama daerah sentra-sentra kebakaran,” tuturnya.
Di sisi lain, tingginya kejadian karhutla membuat Pemerintah Kecamatan Sambutan memperketat kewaspadaan di sejumlah wilayah.
Camat Sambutan, Norbaiti Zarta, menyebut Kelurahan Pulau Atas, Makroman dan Sambutan menjadi kawasan yang mendapat perhatian karena cukup sering dilanda kebakaran.
“Kita ini kan posisi kedua setelah kecamatan yang paling tinggi karhutlanya. Jadi kita terus mengingatkan masyarakat, jangan sampai ada pembakaran-pembakaran,” ujarnya.
Menurut Norbaiti, kondisi kabut asap menjadi salah satu indikator penting untuk melihat apakah aktivitas pembakaran masih terjadi. Karena itu, masyarakat terus diingatkan untuk tidak melakukan pembakaran yang berpotensi memicu munculnya titik api.
“Kalau kabut asap ini cepat selesai, artinya tidak ada pembakaran lagi,” kata Norbaiti.
Imbauan tersebut disampaikan melalui kelurahan hingga lingkungan masyarakat, termasuk memanfaatkan grup komunikasi warga. Pemerintah juga mengingatkan agar kewaspadaan tidak hanya ditujukan pada pembukaan lahan dengan cara membakar, tetapi juga aktivitas sederhana yang berpotensi memicu kebakaran.
Pembakaran sampah hingga membuang puntung rokok sembarangan menjadi perhatian, terlebih kondisi lahan yang kering membuat api lebih mudah menyala dan merambat ke area lain.
Pemantauan pun diperkuat melalui sejumlah pos lapangan di kelurahan. Salah satunya berada di Makroman untuk membantu memonitor laporan terkait kemunculan api maupun kepulan asap.
Koordinasi dengan jaringan relawan juga terus dilakukan. Setiap informasi mengenai titik api yang diterima akan segera diteruskan agar dapat ditindaklanjuti di lapangan.
Menurut Norbaiti, keberadaan relawan menjadi bagian penting dalam penanganan karhutla karena mereka kerap menjadi pihak yang lebih dahulu bergerak ketika mendapat laporan.
“Saya mengucapkan terima kasih banyak kepada relawan yang datang duluan untuk memberikan pertolongan memadamkan api,” tuturnya.
Upaya tersebut diharapkan tidak berhenti pada pemadaman, tetapi juga mencegah api berkembang menjadi kebakaran yang lebih luas.
“Harapan kami yang kami lakukan adalah mengedukasi agar masyarakat tidak membakar sampah atau lahan secara sengaja,” tandasnya. (mell)