KALTIM VOICE, SAMARINDA – Universitas Mulawarman (Unmul) melalui Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) bekerja sama dengan PT Swadaya Putra Jaya (Mesra Group) resmi meluncurkan produk minyak atsiri berbasis tanaman endemik Kalimantan Timur sebagai identitas aroma Hotel Mesra Internasional. Peluncuran tersebut berlangsung pada Sabtu pagi di Hotel Mesra, Samarinda.
Kegiatan ini mengusung tema pemanfaatan minyak atsiri sebagai sensory branding, yakni strategi inovatif dalam membangun identitas merek melalui pengalaman indra penciuman. Riset ini diinisiasi oleh tim dosen lintas disiplin Universitas Mulawarman yang terdiri dari Prof. Dr. Rahmawati, Prof. Dr. Harlinda Kuspradini, Dr. Yana Ulfah, Dr. Rina Juwita, Rina Rifayanti, dan Zainal Arifin.

Wakil Rektor I Universitas Mulawarman, Prof. Dr. Lambang Subagiyo, M.Si., menyampaikan bahwa penelitian minyak atsiri ini sejalan dengan arah kebijakan Unmul sebagai kampus berdampak.
“Riset-riset yang dilakukan dosen Unmul kami dorong tidak hanya berhenti pada publikasi ilmiah, tetapi harus sampai pada tahap inisialisasi, pemanfaatan, dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat maupun institusi,” ujarnya.
Menurutnya, minyak atsiri yang berasal dari tumbuhan lokal memiliki potensi besar untuk dikembangkan lebih luas, tidak hanya di sektor perhotelan, tetapi juga di perguruan tinggi, perkantoran, hingga lembaga pemerintahan.
“Produk berbasis minyak atsiri ini memberikan sensasi segar dan menenangkan. Selain untuk ruangan, juga memiliki potensi kesehatan. Inovasi ini ke depan dapat dimanfaatkan secara luas dan mendorong pengembangan UMKM serta industri lokal,” tambahnya.

Ketua Tim Riset, Prof. Dr. Rahmawati, menjelaskan bahwa riset ini berangkat dari Program Induk Penelitian (PIP) Universitas Mulawarman, yakni Hutan Tropis Basah dan Lingkungannya, serta konsep hilirisasi riset melalui kolaborasi antara akademisi dan industri.
“Tim kami berasal dari berbagai fakultas, mulai dari Kehutanan, Ekonomi dan Bisnis, Ilmu Komunikasi, hingga Psikologi. Tujuannya agar riset ini tidak hanya tersimpan di jurnal, tetapi dapat langsung diimplementasikan oleh industri perhotelan,” jelasnya.
Selama empat bulan penelitian, tim melakukan diskusi kelompok terarah (FGD) dan pengujian aroma yang bahan bakunya berasal dari tumbuhan endemik Kalimantan Timur. Hasilnya dinilai sangat layak untuk dijadikan sensory branding.
“Minyak atsiri yang dihasilkan memiliki karakter aroma lembut, segar, dan berwibawa. Implementasinya terbukti berdampak pada peningkatan kenyamanan tamu dan okupansi Hotel Mesra,” ungkapnya.
Ke depan, tim riset berharap produk ini dapat dipatenkan dan dikembangkan lebih luas, tidak hanya di sektor perhotelan, tetapi juga bekerja sama dengan pemerintah daerah serta alumni Universitas Mulawarman.

Salah satu peneliti, Prof. Dr. Harlinda Kuspradini, menyebutkan bahwa dari 13 jenis minyak atsiri yang telah dihasilkan dalam penelitian sebelumnya, tim menetapkan empat aroma unggulan sebagai identitas Hotel Mesra, yakni Cinnamomum camphora, Cymbopogon citratus, Litsea elliptica, dan Litsea angulata.
“Keempat aroma ini telah dianalisis bersama tim psikologi untuk melihat respons pengguna. Kami ingin menampilkan warna khas Kalimantan Timur yang bersumber dari biodiversitas tumbuhan aromatik lokal,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa keberlanjutan hulu menjadi perhatian utama. Selain eksplorasi, tim peneliti juga melakukan budidaya tanaman aromatik agar pemanfaatan minyak atsiri tetap menjaga kelestarian hutan.

CEO/Direktur Hotel Mesra, Yusan Triananda, menyambut positif kolaborasi ini. Menurutnya, aroma khas menjadi nilai tambah dalam memperkuat identitas Hotel Mesra.
“Branding berbasis aroma sangat tepat untuk Hotel Mesra. Ketika orang mendengar nama Mesra, kami ingin mereka langsung teringat pada aroma khas yang membedakan kami dari hotel lain,” katanya.
Ia juga menilai kerja sama dengan perguruan tinggi sangat penting, terutama dalam memberikan ruang pembelajaran bagi mahasiswa melalui keterlibatan langsung dengan industri.
Ke depan, minyak atsiri ini diharapkan tidak hanya digunakan di Hotel Mesra, tetapi juga dapat dikembangkan menjadi aroma khas Kalimantan Timur yang diaplikasikan di bandara, ruang publik, hingga menjadi produk suvenir bagi tamu hotel.

Sementara itu, Anggota Komisi IV DPRD Kalimantan Timur, Sarkowi V. Zahry, menilai penelitian minyak atsiri ini sebagai langkah strategis dalam menggali potensi tumbuhan lokal.
“Ini peluang besar. Tantangannya ada pada produksi, bahan baku, dan pemasaran. Perlu promosi berkelanjutan dan dukungan investor agar produk ini mampu bersaing,” ujarnya.
Ia juga mendorong pemerintah daerah untuk menjadi stimulan awal dengan memanfaatkan minyak atsiri di kantor-kantor dan fasilitas publik.

“Jika dikelola dengan baik, minyak atsiri lokal ini bisa menjadi motor penggerak produk unggulan Kalimantan Timur sekaligus mendorong pengembangan UMKM berbasis hasil riset,” pungkasnya. (Mzhra).


