KALTIMLINE.ID, SAMARINDA — Sejumlah komoditas pangan di Pasar Segiri Samarinda mengalami kenaikan harga dalam beberapa hari terakhir. Berdasarkan pantauan KALTIMLINE.ID pada Senin (8/6/2026), kenaikan terjadi pada daging ayam dan sejumlah merek minyak goreng. Sementara harga beras relatif stabil dan harga telur justru mengalami penurunan.
Pedagang ayam di Pasar Segiri, Eka (36), mengatakan kondisi pasar masih sepi dibanding biasanya. Menurutnya, jumlah pembeli mengalami penurunan dalam beberapa waktu terakhir. “Menurun banget. Belakangan ini memang lagi sepi aja,” katanya.
Ia menjelaskan harga ayam ukuran sekitar dua kilogram kini naik menjadi Rp55 ribu per ekor dari sebelumnya Rp50 ribu. “Naiknya baru sekitar tiga hari ini. Sebelumnya Rp50 ribu, sekarang Rp55 ribu,” ujarnya.
Kenaikan juga terjadi pada komoditas minyak goreng. Pedagang minyak, April (18), menyebut sejumlah merek mengalami kenaikan harga dalam dua bulan terakhir. Harga Rose Brand misalnya naik dari sekitar Rp20 ribu menjadi Rp25 ribu per liter. Sementara Minyakita yang sebelumnya dijual Rp18 ribu per liter kini mencapai Rp23 ribu per liter. “Memang ada beberapa kenaikan. Sudah sekitar dua bulan belakangan ini,” katanya.
Meski mengalami kenaikan harga, ia menilai permintaan minyak goreng masih cukup stabil karena merupakan kebutuhan pokok masyarakat. “Kalau pembelinya masih lumayan,” ujarnya.
Di sisi lain, harga beras di Pasar Segiri terpantau relatif stabil. Pedagang beras, Muhammad Tan mengatakan belum ada perubahan harga yang signifikan dalam beberapa bulan terakhir.
Beras merek Jempol kemasan 10 kilogram dijual Rp155 ribu, Ketupat Lebaran kemasan 5 kilogram Rp85 ribu, sementara Dapurku kemasan 25 kilogram dibanderol Rp390 ribu. Untuk pembelian eceran, harga beras berkisar Rp15 ribu hingga Rp16 ribu per kilogram tergantung dari jenisnya. “Masih bertahan, belum ada kenaikan,” singkatnya.
harga telur justru menunjukkan tren penurunan. Pedagang telur Alfin (22) mengatakan harga telur ayam saat ini berada di kisaran Rp48 ribu hingga Rp53 ribu per piring, turun dari harga tertinggi sebelumnya yang sempat mencapai Rp55 ribu per piring. “Sudah sekitar sebulan turun. Sekarang ada yang Rp48 ribu, ada yang Rp53 ribu,” ujarnya.
Meski pergerakan harga komoditas di Pasar Segiri tidak seragam, para pedagang menilai tantangan terbesar saat ini bukan hanya kenaikan harga, melainkan berkurangnya jumlah pembeli.
Kondisi pasar yang belum seramai biasanya membuat sebagian pedagang berharap daya beli masyarakat dapat kembali membaik dalam waktu dekat.
“Harga naik masih bisa kami ikuti, yang susah itu kalau pembelinya berkurang. Mudah-mudahan ke depan pasar bisa ramai lagi seperti dulu.” pungkas Eka. (mell)